>Keluarga Ardjo Wiyono, Pembuat Kereta Kuda Untuk Kraton Yogyakarta

>

Oleh: Bambang MBK

Salah satu obyek wisata di Yogyakarta yang ramai dikunjungi turis adalah Museum Kereta. Di museum yang terletak di barat laut Keraton Yogyakarta itu, terdapat 22 kereta kuda koleksi Keraton Yogyakarta yang berumur ratusan tahun, bernilai sejarah tinggi dan dalam kondisi prima. Dari para pemandu, para turis itu mendapat pejelasan asal-usul dan fungsi setiap kereta kuda yang artistik itu. Tetapi satu hal yang tidak mereka ketahui adalah, siapakah yang mempunyai peran besar dalam menjaga keutuhan kereta-kereta kuda itu sehingga masih dapat berfungsi dengan sempurna ?

Jawabannya adalah keluarga almarhum Ardjo Wiyono. Keluarga ini memang ‘unik’ sebab secara turun-temurun setia menjalankan profesi sebagai ahli pembuat kereta kuda. Pihak Keraton Yogyakarta juga selalu mempercayai keluarga ini untuk memperbaiki kereta kudanya jika mengalami kerusakan. Begitu pula dengan kereta kuda koleksi Puro Pakualaman Yogyakarta juga menjadi langganan keluarga ini.

“Belum lama ini, kita baru saja memperbaiki tiga kereta kuda milik keraton,” ujar Sumardi, anak ke tiga dari almarhum Ardjo Wiyono. Rumahnya yang sederhana dan tidak terlalu besar di Desa Jetis, Bantul sekitar 16 km selatan Yogyakarta pun menjadi sesak dengan kereta. Sambil membuka buku berjudul Kratonkoetsen op Java terbitan De Bataafsche 1986 yang berisi koleksi kereta kuda milik kerajaan-kerajaan di Jawa, Sumardi menunjukan foto kereta kuda milik Keraton Yogyakarta yang baru saja ia renovasi, yaitu jenis landauer buatan tahun 1800-an.

Siang itu, sambil beristirahat di bengkel yang terletak tepat di depan rumahnya, Sumardi bercerita dahulu ayahnya, Ardjo Wiyono adalah seorang abdi dalem keraton yang memiliki keahlian membuat kereta kuda. Ardjo Wiyono sendiri mewarisi keahlian ini dari ayahnya yang bernama Prawiro Redjo.

Setelah Ardjo Wiyono meninggal, profesi sebagai pembuat kereta kuda itu diteruskan anak-anaknya. Dari lima bersaudara yang semua pria itu, hanya tiga yang menjalani pekerjaan ini secara konsisten, yaitu Sumardi, Sugiman dan Djiono. “Tetapi jika ada pekerjaan membuat kereta kuda baru atau merenovasi kereta kuda milik Keraton Yogyakarta, dua saudara saya lainnya pasti ikut membantu,” ujar Sumardi yang pernah mendapat pelatihan dari ahli kereta kuda dari Belanda.

Sumardi (41 tahun) bercerita sejak kecil, ia dan empat saudaranya selalu membantu ayahnya membuat kereta kuda. Dari situlah mereka mewarisi ketrampilannya ayahnya. Sumardi masih ingat, kereta kuda dari Keraton Yogyakarta yang pernah direnovasi ayahnya dan ia sendiri ikut membantu adalah kereta kuda bernama Kyai Manik Retno.

“Kereta kuda milik Keraton Yogyakarta yang direnovasi biasanya mengalami kerusakan pada bagian body,” ujar Paidi, anak sulung Ardjo Wiyono yang menjadi pemandu wisatawan di Museum Kereta kuda itu. Karena faktor usia, umumnya body kereta kuda yang terbuat dari kayu itu mengalami pelapukan. Bagian yang lapuk itu kemudian diganti dengan kayu jati pilihan. Proses perbaikan tetap mengacu pada bentuk semula, tidak ada sedikit pun yang berubah. Selain jenis landauer, kereta kuda Kyai Roto Biru, Kyai Notopuro, Kyai Rejo Panoko dan lainnya pernah merasakan sentuhan perbaikan keluarga Ardjo Wiyono.

Memperbaiki kereta kuda milik keraton tentu berbeda dari kereta kuda biasa. Pasalnya kereta-kereta kuda yang sebagian besar buatan Belanda tahun 1800-an itu dianggap sebagai benda keramat. Keraton Yogyakarta pun menganggapnya sebagai benda pusaka. Setiap kereta kuda memiliki nama seperti Kyai Garuda Yekso, nama kereta kuda termewah buatan 1860 yang digunakan untuk upacara penobatan raja baru.

“Sebelum merenovasi, biasanya kita menjalankan prosesi upacara selamatan dahulu. Ini suatu keharusan dan sudah menjadi tradisi,” ujar Sumardi. Dalam upacara selamatan ini, anak-anak alamarhum Ardjo Wiyono duduk dan berdoa bersama. Dihadapan mereka ada sesaji berupa ingkung ayam. Bila proses perbaikan selesai, upacara selamatan diadakan sekali lagi. “Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas keselamatan yang diberikannya,” tambah Sumardi.

Bagi anak-anak Ardjo Wiyono, merenovasi kereta kuda milik keraton menjadi berkah sendiri. Sebab pada saat itu ke lima anak Ardjo Wiyono akan berkumpul dan saling bekerja sama dalam memperbaiki kereta kuda yang dikeramatkan itu. Jadi momen ini pun menjadi suatu ajang ‘reuni keluarga’.

Namun bila tidak ada ‘job’ memperbaiki kereta kuda pusaka, tinggal Sumardi, Sugiman dan Djiono yang masih bergelut dengan dunia kereta kuda. Mereka menerima perbaikan andhong yang rusak. Andhong adalah jenis kereta kuda yang masih digunakan sebagai alat transportasi tradisional di Yogyakarta. Seperti yang terlihat siang, itu mereka rukun dan tampak saling membantu.

Sesekali mereka juga membuat kereta kuda yang indah – hasil rombakan dari andhong – atau mengerjakan pesanan orang. Sebuah kereta kuda yang cukup bagus kini tersimpan di ruang tamu rumah mereka, siap dipinang pecinta kereta kuda yang berminat. Harganya Rp 25 juta. Menurut Sugiman, ongkos terbesar pembuatan kereta kuda yang memerlukan waktu sekitar 3 bulan itu terletak pada upah tenaga kerjanya.

Salah seorang pelanggan kereta kuda buatan keturunan Ardjo Wiyono ini adalah Hamzah Hendro Sutikno, seorang pengusaha terkemuka pemilik Toko Mirota Batik. “Pak Hamzah sudah pesan kereta kuda berkali-kali,” ungkap Sumardi. Salah satu pesanan Hamzah adalah kereta kuda replika dari kereta kuda milik Keraton Yogyakarta jenis coupe driekwart yang bernama Kus Gading. “Saya puas dengan hasil karya mereka,” ungkap Hamzah suatu ketika.

Waktu terus berlalu. Sumardi dan saudaranya adalah generasi ketiga yang masih setia menekuni pekerjaan sebagai pembuat kerera kuda. Walaupun tak banyak diketahui orang, keluarga ini mempunyai peran besar dalam menjaga kontinuitas sejarah koleksi kereta kuda milik Keraton Yogyakarta sehingga selalu tampak bagus dan pantas dikagumi para wisatawan.

Tetapi apakah profesi yang menjadi tradisi keluarga ini masih akan berlanjut di masa datang? Ini adalah sebuah pertanyaan besar yang harus dijawab keluarga besar keturunan Ardjo Wiyono. Sebab hingga kini belum ada cucu Ardjo Wiyono yang memperlihatkan ketertarikan terhadap dunia kereta kuda. Akankah tradisi keluarga ini terputus? Waktu pula yang akan menjawabnya.

This entry was posted in profil. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s