>Pantai Trisik, Tempat Penyu Lekang Bertelur

>









Penyu lekang itu mulai berjalan di bibir Pantai
Trisik menuju Samudera Indonesia. (Foto:Bambang MBK)


Oleh: Bambang MBK

Pantai Trisik adalah salah satu pantai di Kabupaten Kulonprogo, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menjadi tempat bertelur penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Binatang ini biasanya mulai mendarat dan bertelur pada saat mulai pergantian musim hujan ke musim kemarau. Penyu lekang betina seperti jenis penyu lainnya dapat bertelur hingga ratusan butir.

Sayang binatang yang dilindungi ini sering tertangkap manusia saat bertelur atau masuk dalam jaring nelayan setelah bertelur di pantai. Jika jatuh ke tangan orang yang tidak tahu tentang pentingnya melindungi binatang ini, maka penyu lekang yang beratnya dapat mencapai lebih dari 50 kg itu akan dijual atau menjadi santapan yang lezat: gulai atau sate penyu!

Namun jika kabar tentang tertangkapnya penyu itu terdengar ke telinga Pak Khoirun, seorang penduduk yang tinggal di Pantai Trisik, maka ada harapan besar binatang berkerapas ini akan selamat. Pak Khoirun akan mengontak Lim Wen Sim, seorang pecinta lingkungan yang juga seorang pengamat burung cukup ternama di Yogyakarta. Lim, demikian ia akrab dipanggil akan ‘membeli’ penyu itu untuk kemudian dilepaskan kembali.

Selasa (10/6) Lim dan teman-temannya kembali melepaskan seekor penyu lekang. Perlu beberapa orang untuk membawa penyu lekang seberat 50 kg ini dari rumah Pak Khoirun menuju bibir Pantai Trisik. Namun sebelumnya, sedikit jaringan tubuhnya diambil untuk disimpan informasi DNA-nya. “Pak Pram (ahli biologi dari Universitas Atma Jaya, Yogyakarta) yang minta,” ujar Lim.

Menurut Surya, salah seorang teman Lim, penyu lekang ini tertangkap jaring nelayan pada Selasa dini hari sekitar pukul 01.00. “Dia sudah bertelur sebanyak 120 biji,” ujar Surya. Kini telur-telurnya sudah dipindah ke tempat yang aman untuk ditetaskan, letaknya sekitar 10 meter di belakang rumah Pak Khoirun.

Setelah dibawa dua orang (secara bergantian) dari rumah Pak Khoirun ke bibir pantai, penyu lekang itu kemudian diletakkan. Kini, ia harus berjuang lagi untuk survive di alam liar. Perlahan-lahan ia merangkak menuju Samudera Indonesia, meninggalkan jejak di pasir pantai. Kepergiannya disaksikan para aktivis lingkungan hidup dan beberapa jurnalis di Yogyakarta.

Selamat jalan penyu lekang, semoga kau tetap lesatari!

This entry was posted in lingkungan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s