>Menikmati “Pesta Gagasan” di Ars Longa

>

“Pesta Gagasan”, begitulah tema pameran seni rupa di galeri ArsLonga yang berada di kawasan Mantrigawen Lor, Yogyakarta. Ada sekira 44 karya seni, baik lukis, patung dan instalasi dari 23 seniman yang siap dinikmati. Sungguh suatu tema yang cukup menarik!

Memasuki ruang pameran, mata para penikmat seni akan tertumbuk pada karya instalasi yang terletak di sisi kanan. Itu adalah karya instalasi dari Kris yang berjudul “Red Koro” yang provokatif. Visualnya, sebuah penis terbuat dari kayu yang sedang ereksi. Dari lubang penis ada selang yang ujungnya masuk ke mulut patung kepala pria yang berwarna merah. Di sekitar pangkal penis dan ujungnya terdapat bercak-bercak putih yang mangasosiasikan kepeda sperma.

AA Nurjaman, kurator pameran ini mengatakan sengaja memberi kelonggaran kepada masing-masing perupa untuk menampilkan karya-karya terbaiknya berdasarkan kemurnian gagasan, bukan pada selera pasar yang sedang digandrungi saat ini. Hasilnya sadalah parade karya seni yang bermacam-ragam dan kental dengan kritik sosial.

Marwan, seorang seniman muda menampilkan karya lukisnya yang berjudul “Menolak Mengikuti Pesta”. Karya ini mencoba melakukan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang mengeluarkan UU BHP (Badan Hukum Pendidikan) yang menurut para kritikus menyebabkan biatya sekolah menjadi kian mahal.

Sedangkan tepat di tengah ruang pameran, ada patung sebatang pohon – terbuat dari besi — tanpa ada satu daun pun. Seekor burung yang terbuat dari alumunium, hinggap di salah satu cabangnya. Patung karya Tree Suharyanto yang berjudul “Nyanyian Hijau yang Hilang” ini mencoba mengkritisi peri laku manusia moderen yang gemar membabat hutan sehingga menyebabkan berbagai bencana alam.

Namun tidak semua karya seni yang terpajang dalam pameran itu kental dengan kritik sosial. Karya lukis dari Widodo yang berjudul “Wine” atu Diyah Yulianti yang berjudul “Naik cahaya” tak membwa pesan tentang kritik sosial. Dalam pesta gagasan, ini tentu sah saja.

Menyaksikan pameran seni rupa yang digelar dari 25 hingga 31 Januari ini, masyarakat selain dapat menikmati keindahan suatu karya seni juga ‘diingatkan’ dengan berbagai persoalan yang hadir di hadapan mereka. Mereka Anas Etan, Andri Susilo, Dyah Yulianti dan yang lain seolah membawa obor yang menujukan ‘peta persoalan sosial’ yang ada di masyarakat. Ya, para seniman sejatinya juga guru bagi masyarakat luas yang kadang terlena dari persoalan-persoalan sosial karena terlalu berat memikirkan jalan kehidupan yang makin sulit. (Bambang MBK)

This entry was posted in Seni. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s