>Panduan untuk Wawancara dengan Anak-anak*

>

1. Wawancara dengan anak (kecuali dalam suatu situasi khusus), anak harus didampingi oleh orang dewasa yang dapat mewakili kepentingan anak. Mengapa? Untuk melindungi kepentingan anak dan kalau perlu dapat meminta wawancara dihentikan jika memang diperlukan.

2. Sang jurnalis (pewawancara) harus duduk atau berdiri sehingga mukanya bisa setara dengan si anak. Jangan sampai wawancara dilakukan dengan cara ‘dari atas ke bawah’. Maksudnya jika wawancara, si jurnalis harus duduk atau jongkok sehingga mukanya setara dengan si anak yang karena masih kecil masih dalam keadaan berdiri.

3. Bagi para jurnalis radio dan televisi, perlu diingat wawancara harus dilakukan dalam situasi dimana anak dalam keadaan santai. Ia tidak lagi terganggu atau terpesona dengan kehadiran kamera atau perangkat teknologi lainnya. Untuk ini para jurnalis (dengan perangkat teknologinya) harus berbaur dengan anak-anak untuk beberapa waktu sehingga anak-anak menghentikan perhatiannya pada kamera dan peralatan teknologi lainnya.

4. Pertanyaan-pertanyaan harus ditujukan langsung kepada si anak, bukan kepada pendampingnya (orang dewasa). Si pendamping seharusnya hanya mengawasi dan tidak melakukan intervensi. Ingat anak juga mempunyai hak untuk mengekspresikan pendapat dan pandangannya sendiri. Jika kita terpaku panda pandangan orang dewasa (sang pendamping) maka kita justru akan terperosok dengan membuat liputan tentang orang dewasa dan bukan tentang anak.

5. Para jurnalis harus melakukan wawancara dengan raut muka tenang, bersahabat dan dengan suara lemah lembut. Usahakan jangan melakukan sesuatu (baik melalui suara atau gerakan yang membuat anak menjadi takut dan tertekan.

6. Pertanyaan-pertanyaan harus diucapkan dengan jelas dan langsung. jangan mencoba untuk menggiring si anak. Untuk pertanyaan pertama, usahakan mengajukan pertanyaan terbuka (agar si anak tidak merasa tertekan) dan selanjutnya dapat menggunakan pertanyaan tertutup untuk melakukan klarifikasi terhadap beberapa fakta yang harus dicek.

7. Pertanyaan-pertanyaan dapat diulang beberapa kali dalam format yang berbeda untuk melakukan cross-check sehingga si jurnalis dapat memastikan sia anak telah mengerti pertanyaan kita dan dapat mengungkapkan perasaan atau pikirannya sendiri.

8. Lebih baik melontarkan pertanyaan tentang fakta yang terjadi dari pada pada menanyakan tentang perasaan si anak. Biasanya seorang anak dengan senang hati akan menceritakan segalanya jika ia merasa nyaman dengan wawancara itu. Jika ditanyakan tentang perasaannya, si anak mungkin akan merasa tertekan.

9. Sedapat mungkin carilah cara-cara yang terbaik untuk melakukan wawancara (ada ruang dan kesempatan untuk melakukan inovasi).

10. Jika melakukan wawancara dengan menggunakan jasa penterjemah, harus diperhatikan agar sang penterjemah mengatakan dengan benar (secara rinci) apa yang dikatakan si anak, jangan sampai si penterjemah hanya berfungsi sebagai mediator atau meringkas jawaban si anak.

*Diambil dari Child Rights and the Media: Putting Children in the Right, Guidelines for Journalists and Media Professionals (International Federation of Journalists)

This entry was posted in Liputan Soal Anak. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s