>Rinding, Alat Musik Khas dari Desa Beji, Gunungkidul

>

Oleh: Bambang Muryanto

Jika ada kesempatan, cobalah mengunjungi Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul. Memang agak jauh dari Kota Yogyakarta, sekira 45 kilometer. Tetapi setiba di sana, anda akan mendapat pengalaman berharga karena mempunyai kesempatan menyaksikan penduduk memainkan alat musik yang langka dan mungkin hanya dapat ditemukan di desa itu, namanya rinding.

Alat musik ini cukup sederhana karena terbuat dari sebilah bambu berukuran 5×20 Cm. Di bagian tengah ada sebuah lubang memanjang dari kanan ke ke kiri yang membentuk pola seperti garpu tala atau huruf Y. Posisinya kaki huruf Y atau pegangan garpu tala ada di sebelah kiri. Seutas tali diikatkan di ujung sebelah kanan.

Cara memainkannya, pegang rinding dengan kedua tangan dan letakkan dengan posisi rinding bagian kiri ada di depan mulut yang terbuka. Selanjutnya tarik tali dengan tangan kanan. Tarikan ini menyebabkan bagian bambu yang membentuk garpu tala atau huruf Y, terutama pada bagian kakinya bergetar. Ketika udara dihembuskan dari rongga mulut dan mengenai bagian bambu yang bergetar akan menimbulkan suara. Terus terang, saya sulit untuk mendiskripsikan suara itu karena memang cukup aneh.

Kalau tidak salah, suku Aborigin di Australian juga mempunyai alat musik seperti ini. Hasil suara yang dihasilkannya juga tidak berbeda jauh. “Semakin kuat hembusan nafas dari mulut akan menghasilkan bunyi yang semakin keras,” ujar Siswanto Tukimin (66) warga Desa Beji.

Walaupun sudah berumur, Siswanto masih kuat memainkan rinding sekira satu menit. Asal tahu saja, untuk memainkan alat musik sederhana ini ternyata memerlukan tenaga besar karena sang pemain harus terus bernafas seraya menghembuskan udara keluar melalui mulut dan tidak melalui hidung. Itulah sebabnya rinding harus dimainkan secara berkelompok (sekira 10 hingga 15 orang) sehingga sebuah lagu bisa dibawakan secara estafet oleh para pemainnya.

Muhammad Kasno (77), salah seorang tetua Desa Beji mengatakan alat musik rinding adalah hasil kreasi nenek moyang penduduk Beji. Terutama adalah pepunden mereka yang bernama Onggoloco. Sejarah lisan yang hingga kini masih dipercaya menarasikan jika Onggoloco adalah salah satu patih dari Kerajaan Majapahit yang ketika runtuh, melarikan diri hingga ke wilayah Gunungkidul. Ia kemudian membuka hutan dan menetap di Desa Beji.

Kasno, pria yang mempunyai alis tebal itu mengatakan penduduk Beji biasa memainkan rinding dalam pesta rakyat untuk menyambut panen padi. Setahun sekali, penduduk Beji juga punya tradisi sadranan untuk menghormati Onggoloco. “Jika ada permintaan, kita bisa juga memainkan rinding dalam upacara sadranan,” ungkap Kasno. Dalam berbagai kesempatan, pemerintah Kabupaten Gunungkidul sendiri juga sering menampilkan pertunjukkan kesenian rinding.

Biasanya, rinding tidak tampil sendiri. Dalam sebuah pertunjukkan, rinding akan dikombinasikan dengan gubeng, sebuah alat musik dari bambu yang menimbulkan suara bila dipukul. Kombinasi permainan ini namanya rinding gubeng.

Nah, jika anda penasaran dengan suara rinding dan bagaimana cara memainkannya, silakan datang berkunjung ke Desa Beji, Ngawen, Gunungkidul, Provinsi Yogyakarta. Perpaduan suara rinding dengan suasana pedesaan akan memberikan pengalaman batin yang sungguh indah….

This entry was posted in Seni. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s