>Jogja Art Festival #2, Spacing Contemporary

>Beberapa hari lalu, saat melintas di kawasan Taman Budaya Yogyakarta, saya sempat kaget karena gedung utama yang biasa untuk pameran seni lukis ‘hilang’. Dimana gedung berwarna putih itu? Ya ternyata gedung itu ‘hilang’ karena ada perubahan interior di bagian mukanya. Seluruh bagian muka gedung ditutup dengan seng yang menjadi media bagi mural karya Farhan Siki. Sedangkan tepat di depan pintu masuk yang berhiaskan huruf JAF, terdapat sebuah karya berujud rumah yang terbuat dari bongkahan-bongkahan dinding. Ini adalah karya instalasi dari S Teddy D.

Begitulah situasi di Taman Budaya Yogyakarta yang sedang menjadi ajang pameran seni rupa dengan tajuk Jogjakarta Art Festifal (JAF) #2. Tema pameran dengan kurator Aminuddin TH Siregar ini adalah Spacing Contemporary. “Sebagai upaya untuk mendefinisikan pola teratur di dalam ruang perkembangan mutakhir antara praktik seni rupa, antara kecenderungan, motif, gagasan dan pemikiran,” ujar Aminudin dalam pernyataan tertulisnya..

Melihat pameran ini, pengunjung akan dipaksa menghabiskan banyak waktunya untuk menikmati berbagai karya seni. Bayangkan saja ada 142 karya yang mejeng dalam pameran yang berlangsung dari tanggal 18 Agustus hingga 5 Sepetember 2009. Selain seni rupa, pengunjung atau bahkan calon pembeli dapat menikmati karya berupa tiga dimensi, street art, fotografi, video, new media art dan lain sebaginya. Lengkap!

Satu yang menarik perhatian adalah karya Rennie ‘Emonk’ Agustine F dengan judul Metamor’pop’is. Dengan media kayu, ia membuat visual penis yang berukuran 50 cm hingga 90 cm. Di tiap-tiap penis yang sebetulnya tampak seperti orang bertopi sedang berdiri itu, ia menggambarkan wajah-wajah si Raja Pop Dunia, Michael Jackson yang mengalami proses perubahan alias metamorposis.

Di luar ruang pameran, karya seni dalam wujud street art dipamerkan secara ‘live’ yang langsung dapat disaksikan publik. Love Hate Love Plus membuat karya mural di beberapa sudut kota Yogyakarta, misalnya di wilayah plengkung Gading, Gondomanan dan pojok beteng. Karya mural ini sekaligus juga menginformasikan kepada publik jika di Yogyakarta sedang berlangsung Jogjakarta Art Festival.

JAF #2 merupakan kelanjutan dari JAF pertama yang berlangsung tahun lalu. Akankan festival kali ini akan sesukses atau lebih sukses dari pameran sebalumnya? Sejarah yang akan membuktikannya.

This entry was posted in Seni. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s