>Melepasliarkan Elang Jawa di Lereng Gunung Merapi

>

Di lereng Gunung Merapi dengan ketinggian sekira 1200 meter (dpl), Jose, anggota Raptor Club Indonesia jongkok. Di tangan kirinya yang berbalut sarung tangan kulit yang panjang, bertengger seekor raptor berbulu coklat, berpadu dengan spot warna hitam dan putih. Setelah tali di kakinya, giliran ‘topeng’ penutup matanya dibuka. Dalam sekejap, bola matanya yang berwarna kuning menyala menatap tajam Jose. Ia membuka paruhnya yang tajam sambil merentangkan sayap. Di atas kepalanya, tiga helai bulu jambulnya bergetar. Hanya dalam hitungan detik, ia terbang melesat dan hinggap di sebuah pohon besar. Setelah berorientasi sejenak, ia melesat ke udara lagi dan hilang ditelan rimbunnya pepohonan hutan hujan tropis yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi.

Ya, raptor bernama elang jawa (Spizaetus bartelsi) itu kembali hidup bebas di habitat alamnya. Bagi para pelaku konservasi burung di Yogyakarta, terutama Kutilang Indonesia Birdwatching Club dan Raptor Club Indonesia (RCI) Cabang Yogyakarta, ini adalah sebuah momen sejararah amat penting. Untuk pertama kalinya mereka melepasliarkan seekor elang jawa di lereng Selatan Gunung Merapi, Yogyakarta, Sabtu (25/4). “Ini adalah pelepasliaran elang jawa pertama kali di wilayah Yogyakarta,” ujar Direktur Kutilang, Ige Kristanto.

Di Indonesia yang mempunyai 78 jenis raptor, burung endemik Pulau Jawa ini adalah spesies paling terancam punah. Para ahli burung memperkirakan jumlahnya tinggal 200 ekor tersebar di berbagai hutan di pulau paling padat penduduknya di Indonesia ini. Penyebabnya tidak lain karena terus menyusutnya luas hutan di Pulau Jawa dan perburuan yang belum dapat dihentikan.

Sedangkan di lereng selatan Gunung Merapi tinggal tersisa 5 individu elang jawa! Itulah sebabnya pelepasliaran elang jawa betina dan berumur dua tahun ini mempunyai nilai penting. Kehadirannya menambah jumlah elang jawa di kawasan itu menjadi 6 ekor. Momen ini menjadi ‘catatan emas’ dalam wacana konservasi burung di Yogyakarta

“Kami, sangat terharu dapat melepasliarkan elang jawa ini,” ujar Budi “Kabul” Prakosa, koordinator RCI Yogyakarta, sebuah komunitas pecinta raptor untuk berburu dan berolah raga. Ia menceritakan elang jawa ini adalah milik salah seorang anggota RCI yang mendapatkannya dari seorang pedagang. Konon elang jawa ini berasal dari Jawa Timur. Ini menjadi bukti jika perburuan terhadap elang jawa yang menurut IUCN berstatus critical endangered masih terus terjadi.

Budi menjelaskan setelah ia melihat raptor milik anggotanya itu adalah jenis elang jawa yang dilindungi dan terancam punah, ia menegaskan burung ini harus dilepaskan di habitat alamnya. Setelah konsultasi dengan Lim Wen Sim, anggota RCI dan aktivis Kutilang, persiapan rilis pun dilakukan. Lim segera melakukan cek fisik dan kesehatannya, ia mengatakan raptor ini siap dirilis. “Semakin cepat, semakin bagus,” ujar Lim. Praktis raptor ini ada di tangan anggota RCI hanya 12 hari sejak dibeli pada tanggal 13 April lalu.

Dan Sabtu lalu menjadi awal lembaran hidup baru bagi elang jawa ini. Puluhan orang yang berasal dari anggota RCI Yogyakarta, Kutilang Indonesia Birdwatching Club dan para jurnalis mengantarkannya ke rumah alamnya yang baru. Mereka rela menempuh perjalanan mendaki lereng Gunung Merapi sejauh sekitar 4 kilometer. Rute yang dilalui adalah rute yang selalu digunkan Mbah Maridjan – juru kunci gunung Merapi – jika mengadakan Labuhan, untuk memperingati ulang tahun Raja Kraton Yogyakarta. Sang elang jawa sendiri dimasukkan dalam sebuah kotak dan dijinjing dua orang. Tidak terlalu berat.

Setelah berjalan kurang lebih satu jam, tibalah rombongan kecil itu di tempat yang dipilih, yaitu bibir jurang memanjang yang masuk wilayah Kinahrejo, Sleman, Yogyakarta. Sebelum dilepaskan, elang jawa seberat 17 kg itu dikeluarkan dari kotak untuk diambil darahnya dan menjalani berbagai pengukuran seperti bentang sayap, panjang badan, cakar, paruh dan lain sebagainya. Cakarnya sudah tumpul, kemungkinan sudah lama di tangan pedagang dan pernah ditumpulkan agar tidak melukai. Tidak lupa, di sayapnya dipasang kode dan wingmarker untuk mempermudah proses monitoring dan identifikasi.

Seluruh proses pengkuran dan pengambilan sampel darah ini berlangsung selama 7 menit 39 detik. “Wah ini terlalu lama,” ujar Lim yang memimpin proses ini. Seluruh proses ini tidak ada yang luput dari bidikan kamera para jurnalis. “Wah dia menjadi artis,” ungkap Mutiara (9), seorang anak SD yang rela membolos untuk melihat sosok elang jawa yang menjadi tokoh dalam salah satu buku cerita fabel koleksinya.

Setelah sang elang jawa kembali ke ‘pelukan’ hutan tropis yang hijau, ahli biologi dan pengamat burung dari Universitas Atma Jaya (UAJ) Yogyakarta, Pramana Yuda yang ikut hadir di sana mengatakan kemungkinan besar elang jawa ini dapat beradaptasi dengan habitat alamnya yang baru. “Insyaallah dapat beradaptasi,” ujarnya sambil tersenyum.

Tetapi yang menjadi persoalan serius adalah apakah daya dukung lingkungannya memungkinkan dengan kedatangan seekor elang jawa baru ini. “Persoalannya apakah elang jawa yang baru ini mampu berkompetisi (dengan raptor lainnya) dalam mencari makan,” ujar Pramana. Ia menegaskan berdasarkan hasil studinya, kawasan lereng selatan Gunung Merapi hanya mampu mendukung 6 individu elang jawa. Jika ternyata di kawasan ini ternyata ‘menyimpan’ lebih banyak elang jawa

Ketakutan Pramana ini beralasan karena wilayah hutan lereng selatan Gunung Merapi sangat sempit, hanya sekira 1.283 hektar. Di sini ‘berkuasa’, tiga jenis raptor berukuran besar seperti elang hitam (Ictynaetus malayensis), elang bido (Spilornis Cheela) dan elang brontok (Spizaetus cirhatus). “Belum lagi masih ada jenis-jenis raptor lain yang berukuran kecil,” tambah Pramana. Perebutan makanan antar raptor yang menjadi top predator pasti terjadi. Adegan dogfight alias ‘pertempuran di udara’ untuk memperbutkan wilayah kekuasaan pasti akan lebih sering terjadi.

Untuk memastikan berbagi kemungkinan itu, Kutilang akan melakukan monitoring bersama RCI. Lim mengatakan monitoring guna melihat perkembangan si elang jawa yang baru dilepasliarkan akan dilakukan minimal dua hari sekali. Ige Kristanto mengingatkan berdasarkan pengalaman di masa lalu, tingkat keberhasilan pelepasliaran raptor sangat kecil. Pengalaman di Yogyakarta ini akan menambah pengalaman dan pengetahuan tentang pelepasliaran elang jawa.

Bagaimana masa depan elang jawa betina ini memang masih menjadi misteri. Apakah ia akan survive atau mati. Tetapi untuk sementara kehadiran elang jawa betina ini menjadi penglipur lara atas kematian anakan elang jawa yang diserang kawanan kera ekor panjang (Macaca fascicularis) beberapa bulan lalu. Agaknya sejarah kehidupan elang jawa di lereng Gunung Merapi tengah menggeliat melawan ancaman kepunahan. (Bambang Muryanto)

Tulisan ini pernah dimuat di The Jakarta Post edisi 28 Juli 2009 dengan judul “On A Wing and A Prayer”

This entry was posted in lingkungan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s