>Di Sungai Mbedog, Pria Tua itu Menggantungkan Hidupnya

>

Hujan turun sehari sebelumnya, merubah Sungai Mbedog yang indah menjadi ‘kotak sampah’. Sampah plastik yang hanyut bersama air hujan, tersangkut di pinggiran sungai, dahan pohon bambu yang meliuk ke sungai atau terdampar di bebatuan besar. Di sebuah kelokan sungai, Widyo Sartono (67) yang hanya mengenakan celana pendek hitam, ‘menenggelamkan’ dirinya hingga separuh badan. Dengan sedikit membungkuk, ia mengarahkan sekop kecil ditangannya untuk mencari pasir di dasar sungai.

Walupun sudah berjam-jam berendam di sungai yang berhulu di lereng Gunung Merapi, Widyo tidak merasa kedinginan. “Tidak dingin karena masih ada sinar matahari,” ujarnya sambil terus mencari pasir. Tajuk dari pohon-pohon bambu yang tumbuh di bantaran sungai, ada yang terbuka sehingga memberi celah bagi sinar matahari untuk menerobos masuk dan menghangatkan tubuhnya saat berada di sungai.

Seperti biasanya, di Minggu pagi yang cerah itu, Widyo mencari pasir di Sungai Mbedog yang melintasi kawasan Dusun Sembungan, Tamantirto, Kasihan, Kabupaten Bantul. Hanya beberapa belas meter di selatan rumah pelukis ‘satu milyar’ Joko Pekik yang asri. Arus air sungai tidak terlalu deras

Setelah seonggok pasir terkumpul di sekop, Widyo mengangkatnya ke permukaan air. Ia menyingkirkan batu besar serta sampah-sampah yang ikut terambil. Banyaknya sampah yang masuk ke sungai memberi Widyo tambahan pekerjaan. Bila sudah bersih, ia memasukkan pasir itu ke dalam bakul besar yang diletakkan di atas ‘meja’ tinggi terbuat dari bambu sehingga bagian atasnya tetap muncul di atas permukaan air sungai. Agar tidak hanyut terbawa arus, ia meletakkan sebongkah batu besar di atas ‘meja’ itu.

Widyo tidak berhenti di satu tempat dalam mencari pasir yang warnanya kehitam-hitaman karena bercampur lumpur itu. Ia selalu menjelajahi dasar sungai di sekitar lokasinya untuk menemukan endapan pasir yang masih tebal.

“Saya sudah mencari pasir sejak lima tahunan lalu,” ujar bapak dari 3 anak itu. Semula ia adalah pencari batu untuk pondasi bangunan di Gunung Sempu yang tidak jauh dari tempat tinggalnya, Dusun Sembungan. Tetapi ia terpaksa berhenti mencari batu karena gunung itu menjadi lokasi pemakaman Cina.

Kehilangan mata pencaharian tidak membuat Widyo yang berbadan kokoh itu menjadi pengangguran. Pria yang kadang-kadang menjadi tukang batu ini tidak mau menjadi beban orang lain. Hidup mandiri di atas kaki sendiri, mungkin menjadi salah satu moto hidupnya.

Karena ia tidak mempunyai sawah atau ladang, mencari pasir menjadi pilihan selajutnya untuk menyambung hidup. Pasir di dasar Sungai Mbedog itu berasal dari Gunung Merapi yang hanyut bersama arus air. Musim kemarau, adalah saat dimana pasir sulit dicari. “Jika hujan sudah datang berkali-kali, pasir mudah didapatkan,” ujarnya.

Saat bakulnya sudah penuh pasir, Widyo mengangkat ke pinggir sungai. Bakul berisi pasir itu ia letakan di atas bahunya. Dengan hati-hati ia keluar dari sungai dan berjalan menapaki bibir sungai yang licin. Tampak otot-otot di bagian betisnya menyembul keluar, pertanda ia sering membawa beban berat. Pasir di bakul itu kemudian ia kumpulkan di suatu tempat lapang, beberapa meter dari sungai.

Begitulah ia menjalani rutinitasnya sebagai pencari pasir. Jika jarum jam sudah menunjuk pukul 1 siang, ia akan berhenti. Aktivitas selanjutnya adalah mencari rumput untuk lima ekor kambingnya. Ini adalah tabungannya yang sewaktu-waktu dapat dijual bila ia mendadak membutuhkan uang dalam jumlah besar. Sederhana, tetapi ia tahu bagaimana menyiasati ritme kehidupan yang semakin sulit.

Berapa pendapatan yang diterima Widyo dari mencari pasir? Bila pasir yang dikumpulkannya setara dengan satu pick up colt, ia menerima imbalan Rp 65 ribu. Widyo mengatakan ia harus mengumpulkan pasir sebanyak ini selama dua atau tiga hari.

Widyo adalah satu dari banyak pencari pasir di Sungai Mbedog yang akhirnya menyatu dengan Sungai Progo di Kecamatan Pajangan, Bantul itu. Di Sungai Mbedog yang penuh dengan sampah itu, pria tua itu menggantungkan hidupnya. Ia adalah sosok orang mandiri. Jika ada bantuan yang diinginkan, mungkin adalah kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai sebab itu membuatnya ia harus bekerja lebih keras lagi. (foto dan teks: Bambang Muryanto)

This entry was posted in Seputar Yogyakarta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s