>Hutan Wonosadi, Secuil “Jamrud” yang Jatuh di Gunungkidul

>

Oleh: Bambang Muryanto

Musim kemarau sedang berada di puncak, beberapa desa di Kabupaten Gunungkidul, Propinsi Yogyakarta mulai kekeringan. Tetapi penduduk Desa Beji, Ngawen, Kabupaten Gunungkidul tidak mengalaminya. Meskipun berkurang, air masih mengalir dari sumber-sumber air setempat yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan menyirami tanaman di ladang. Airnya jernih, saat mengalir dan menggenangi sungai-sungai kecil, ia masih bisa memberi kehidupan bagi beberapa jenis ikan lokal.

Ya, bagi Desa Beji, kedatangan musim kemarau tidak membawa persoalan. Jaminan air bersih tetap ada. Warga Beji yang berjumlah sekitar 2968 jiwa (2008) tidak menjadi bagian dari satu hingga dua juta penduduk dunia yang setiap hari berjuang mencari 20 hingga 25 liter air bersih untuk berbagai keperluan dalam satu hari.

Itu semua karena Desa Beji mempunyai hutan adat seluas 25 hektar atau sama dengan luas 51 lapangan sepak bola. Namanya hutan Wonosadi. Di hutan yang menutupi sebuah bukit ini terdapat tiga mata air yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Desa Beji sehari-hari. Sedangkan di sekitar Wonosadi terdapat hutan penyangga seluas 35 hektar yang berfungsi untuk mengurangi kerusakan hutan wonosadi. “Masyarakat bisa mencari kayu bakar di hutan penyangga,” ujar Muhammad Kasno (77), salah seorang pemuka Desa Beji.

Bila anda masuk ke Wonosadi, setelah menapaki jalan setapak yang amat terjal, pasti tercengang karena seperti berada di hutan hujan tropis yang masih perawan di Sumatera. Pohon-pohon besar dari berbagai jenis (diantaranya ada yang langka) berdiri rapat, tajuknya saling bersinggungan dan “dijahit” sulur-sulur tumbuhan perdu yang menjalar ke berbagai arah. Akibatnya sinar matahari sulit menembus, membuat suasana di dalam hutan begitu teduh.

Dari kejauhan, hutan Wonosadi begitu hijau seperti batu jamrud. Sama sekali tidak nampak jika di dalamnya juga terdapat batu-batu yang ukurannya sebesar rumah. Pun pula serasah daun berwarna coklat yang menutupi lantai hutan.

Bila diletakkan dalam land scape Gunungkidul yang kering, tandus dan berbatu, kehadiran Wonosadi yang ijo royo-royo adalah suatu ‘anomali’. Bahkan Wonosadi lebih lebat dari hutan Wanagama milik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang ada di Gunungkidul pula. Kecantikan Wonosadi ini menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk mengunjungi Desa Beji yang menjadi desa wisata sejak 2006.

Kelestarian Wonosadi tidak lepas dari mitos yang dipercaya masyarakat setempat. Menurut Kasno, sekitar abad 15 saat Kerajaan Majapahit di Jawa Timur runtuh – karena serangan Kerajaan Demak di (Jawa Tengah) — salah seorang patihnya yang sakti bernama Ki Onggoloco dan rombongan, melarikan diri dan membuka kawasan hutan di wilayah yang belakangan menjadi Desa Beji. Sejak itu Ki Onggoloco dan rombongan menetap di sana.

Tetapi Ki Onggoloco tidak membuka semua hutan. Ia menyisakan hutan Wonosadi karena memiliki mata air, “Ki Onggoloco berpesan hutan ini harus disisakan supaya mata airnya tetap lestari,” ujar Kasno yang juga menjadi pengururu desa wisata Beji.

Akhirnya Wonosadi tetap dijaga kelestariannya secara turun-temurun. Masyarakat percaya Ki Onggoloco dan berbagai mahluk halus tetap tinggal di hutan itu. Ini membuat masyarakat takut merusak Wonosadi.

Tetapi masa penjajahan Jepang hingga berakhirnya Perang Dunia II, Wonosadi sedikit mengalami kerusakan. “Waktu itu situasi ekonomi sangat sulit, banyak penduduk mencari kayu bakar di hutan itu untuk dijual,” ungkap Kasno.

Pasca Indonesia merdeka, hutan ditutup dan akhirnya pulih kembali. Namun pada tahun 1965, masyarakat pendukung Partai Komunis Indonesia (PKI) melakukan penebangan sehingga Wonosadi rusak parah. Menurut Kasno, para pendukung PKI sengaja melakukan perusakan karena mereka tidak percaya mitos bahwa Wonosadi adalah hutan ‘angker’ yang dihuni banyak jin dan setan serta menjadi kediaman Ki Onggoloco.

Pasca 1965 setelah PKI dihancurkan pemerintah, masyarakat Beji menghijaukan kembali Wonosadi. Proyek penghijauan ini dipimpin perangkat desa, salah satunya Kepala Dusun Duren, Desa Beji, Siswanto Tukimin. “Dialah yang mempunyai peran besar menghijaukan Wonosadi lagi,” tandas Kasno.

Berbagai cara, termasuk melalui kebudayaan digunakan untuk meyakinkan masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian Wonosadi. Belakangan, pelestarian Wonosadi berlangsung sukses, salah seorang penduduk Beji yang juga turut serta dalam penghijauan itu, Sudiyo mendapat penghargaan dari Yayasan Kehati (Keanekaragaman Hayati), Kehati Award untuk kategori Prakarsa Lestari tahun 2009 ini.

Siswanto (66) yang menemani saya menjelajahi Wonosadi, mengatakan setelah penghijauan berhasil, tiga mata air di hutan yang semula mati, hidup kembali. “Tiga sumber ini, dapat memberikan air bersih bagi penduduk di 6 dusun di Desa Beji,” ujarnya saat berada di sumber air bernama Pok Blembem. Di sumber ini, air mengalir dari balik batu hitam besar. “Ini adalah sumber air terbesar,” tambah Siswanto.

Ketika melewati sebuah pohon mahoni berdiameter sekira 1 meter, Siswanto mengatakan,”Ini adalah hasil tanaman saya bersama warga,” ujarnya. Di batang pohon itu tertulis pohon itu ditanam tahun 1966.

“Jantung” dari Wonosadi adalah sebuah dataran seluas 800 meter persegi yang bernama Ngenuman. Di sana tumbuh empat pohon munggur (asem jawa) raksasa, yang lingkar pokok batangnya mencapai 4 hingga 8 meter. Konon pohon ini sudah berumur 500 tahun. Penduduk Beji percaya Ki Onggoloco pernah membangun padepokannya di Ngenuman. Di sana pula, setiap bulan Juni masyarakat Beji menggelar upacara sadranan untuk mengenang mendiang Ki Onggoloco.

Selain menyediakan air bersih, Wonosadi adalah ‘apotik’ raksasa. “Mau sakit apa saja, obatnya ada di sana,” ujar seorang petani renta, Yanto Suwarno. Menurut catatan, hutan itu menyimpan lebih dari 75 jenis tanaman obat.

Dengan kekayaan lebih dari 74 jenis pohon kayu, 23 jenis perdu dan 45 jenis rerumputan, Wonosadi juga menjadi rumah bagi aneka ragma fauna. Paling tidak, seperti dicatat Kasno, ada 32 jenis burung, 9 jenis mamalia, 28 jenis reptil/ampibia dan lebih dari 15 jenis serangga.

Sentuhan alam yang ikut mempercantik Wonosadi adalah kehadiran 21 jenis tanaman hias. Beberapa jenis anggrek terdapat di sini. Tetapi primadonanya adalah anggrek tanah bernama Pactelis susannae. Di musim kemarau, anggrek ini hanya berujud umbi yang tersimpan di dalam tanah. Ia akan muncul pada musim hujan dan kemudian berbunga (warnanya putih).

Saat akan meninggalkan Wonosadi, saya menatap air jernih yang mengalir di sungai kecil yang berhulu di Wonosadi. Sebagian dari air ini masuk ke ladang-ladang yang ditanami kacang tanah, daunnya hijau. Terlepas dari kebenaran sejarah lisan tentang Wonosadi, masyarakat Desa Beji mempunyai keraifan lokal yang sarat dengan pelajaran hidup. Bahwa memelihara kelestarian hutan adalah kunci untuk menopang kehidupan di wilayah yang digariskan selalu mengalami kekeringan.

Tulisan ini dimuat di The Jakarta Post, edisi 3 Nopember 2009

This entry was posted in lingkungan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s