>Pesan Pelestarian Sumber Air dari Senjoyo

>

Tidak seperti biasanya, sumber mata air Senjoyo yang indah di Desa Tegalwaton, Tengaran, Salatiga, Jawa Tengah penuh dengan karya seni instalasi. Suara musik punk rock, metal, reggae, pop dan lainnya menggantikan suara kicauan aneka burung yang biasa hinggap di tajuk pepohonan raksasa di sana. Suasana menjadi begitu ramai karena ribuan orang datang ke lokasi ini mulai dari pagi hingga larut malam, menyaksikan berbagai pagelaran seni atau ikut workshop. Begitulah suasana Senjoyo ketika perhelatan Festival Mata Air 2009 yang bertema “Tanam Pohon=Tangkap Air” berlangsung dari tanggal 8 hingga 11 Oktober lalu.

“Seni adalah media yang paling efektif untuk menarik perhatian terhadap isu lingkungan dan dapat menginspirasi komunitas untuk beraksi,” ujar Vannesa Hyde, manajer kegiatan komunitas Tanam Untuk Kehidupan (TUK) Salatiga yang menyelenggarakan festival ini untuk keempat kalinya sejak 2006 lalu. Itulah sebabnya festival ini mengundang banyak seniman baik dari Indonesia dan luar negeri (Australia, Inggris, Jepang dan Timor Leste) untuk menyajikan karya seni mereka. Lebih dari 120 kelompok seniman berpartisipasi dalam festival ini.

Hampir semua karya seni yang dipamerkan dalam festival ini menggunakan bahan dari barang-barang bekas dan berpesan kepada masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan dan kebersihan seperti membuang sampah pada tempatnya. “Barang bekas itu bukan sampah,” ujar Didik Jilling dari komunitas TUK. Dengan menggunakan barang-barang bekas, ia mengajarkan kepada anak-anak untuk membuat hiasan seni yang bagus.

Lihat pula art performance Imam Wahyudi, seorang seniman Yogyakarta. Ia berdiri selama beberapa jam dengan seluruh tubuh dibalut batang pohon padi kering. Aneka sampah menempel pada tubuhnya. Secarik kertas tertempel dengan tulisan,”Jangan kau Bunuh Alammu Lagi.” Muka Imam sendiri ‘menyeramkan’ karena dilukis menjadi tengkorak. Ia ingin berpesan jika manusia merusak alam seperti menebangi pohon yang terjadi hanyalah bencana yang dapat membunuh manusia sendiri.

Melalui tema “Tanam Pohon=Tangkap Air, komunitas TUK ingin mengingatkan kepada masyarakat Indonesia dan dunia tentang pentingnya menanam pohon agar sumber air tetap lestari sehingga kehidupan mahluk hidup di bumi dapat terjaga. Pohon ibarat ‘pipa’ yang menyalurkan air hujan agar masuk ke dalam tanah yang nantinya akan muncul kembali ke permukaan tanah lewat mata air.

Namun kenyataannya aksi penebangan pohon yang masif terjadi dimana-mana. Setiap tahun, Indonesia sendiri kehilangan hutan sekira1,8 juta hektar. Akibatnya, debit air pada sumber-sumber air mulai berkurang dan bahkan tidak sedikit yang mati. Ambil contoh di Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta, kini 119 mata air di sana dalam kondisi krisis karena berkurangnya tegakan pohon-pohon besar.

World Health Organization (WHO) memperingatkan saat ini sekira 1 milyar penduduk bumi kesulitan mendapatkan air bersih. Akibatnya hampir 3900 anak-anak meninggal setiap hari akibat sulitnya akses air bersih. Jika kelestarian mata air semakin terancam kondisi dunia tentu akan makin buruk.

Senjoyo yang menjadi sumber air bagi warga kota Salatiga dan Kabupaten Semarang juga mulai mengalami penurunan debit air. Data Ranting Pengairan Kecamatan Tengaran, Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Semarang mencatat jika di tahun 1995 debit air di Senjoyo 1.115 liter per detik maka pada tahun 2008 turun menjadi 838 liter per detik (Kompas, 12 September 2008).

Jasmin Wirosumarto (80) juru kunci Senjoyo mengakui berkurangnya debit air ini. “Itu karena banyak sampah plastik menutupi sumber-sumber air yang ada di sekitar sini,” ujarnya. Sebelum festival, komunitas TUK dan ratusan relawan membersihkan sampah plastik yang betebaran di Senjoyo. Sampah yang terkumpul dijadikan satu dan dibuat monumen untuk memperingatkan para pengunjung Senjoyo agar tidak membuang sampah sembarangan. Para seniman mural juga membuat karya dengan pesan agar masyarakat menjaga kebersihan Senjoyo.

Di Senjoyo, terdapat dua kolam besar yang mendapat pasokan air dari banyak mata air di sekitarnya. Di situlah masyarakat sekitar sering bertamasya, berenang dan mencuci pakaian. Airnya sangat jernih sehingga dasar kolam kelihatan. Ikan dan udang air tawar terlihat dengan jelas. Dari dua kolam itu, air selanjutnya mengalir ke sungai-sungai dan saluran irigasi yang mengairi ribuan hektar sawah di wilayah Salatiga dan Kabupaten Semarang.

Pengambilan air oleh perusahaan air minum milik pemerintah (PDAM), industri dan instansi militer juga disebutkan Jasmin sebagai penyebab penurunan debit air. Di Senjoyo, kita dapat melihat pipa-pipa besar menancap di sumber-sumber air besar, menyedot dan mengalirkannya keluar dari Senjoyo. Namun Vanessa mengatakan perusahaan besar dan instansi militer itu tidak pernah melakukan konservasi atau manajemen lingkungan agar sumber air Senjoyo tetap lestari.

Berkurangnya jumlah tegakan pohon di wilayah sekitar sumber air di sekitar Senjoyo juga ikut menyumbang turunnya debit air di Senjoyo. “Banyak pohon di wilayah sekitar Senjoyo ditebang untuk pembangunan,” ujar perempuan asal Australia ini. Sementara Gunung Merbabu setinggi 3124 meter yang berdiri tidak jauh dari Senjoyo dan menjadi water catchment juga mengalami kegundulan. Banyak lahan berubah menjadi kebun sayuran.

Akibatnya, masyarakat di sekitar Senjoyo sendiri sudah mulai mengalami kesulitan air. Siang itu, saat berbagai grup musik mempertunjukkan kebolehannya di salah satu panggung yang dekat dengan sumber air utama di Senjoyo, Nanang (30) warga Cabean, Karangduren (tidak jauh dari Senjoyo) sedang asyik mencuci pakaian di salah satu pojok kolam air Senjoyo. “Saya mencuci pakaian di sini karena air PDAM di rumah hanya mengalir di pagi hari saja,” ujarnya sambil membilas pakainnya sehingga buih-buih sabun deterjen mengambang di permukaan air kolam.

Ironis! Warga yang tinggal di sekitar sumber air justru mulai mengalami kesulitan. Itu pula yang menjadi alasan mengapa komuitas TUK memilih festival mata air 2009 di Senjoyo. “Festival mata air ini juga bisa berguna untuk mengadvokasi kepentingan warga di sekitar Senjoyo,” tandas Vanessa seraya menyebutkan betapa indahnya lokasi Senjoyo.

Semoga tema festival mata air 2009, “Tanam Pohon=Tangkap Air” dapat bergema ke seluruh penjuru dunia. Menanam pohon adalah cara paling mudah dan murah untuk menangkap air serta melestarikan sumber air yang menyediakan air bersih bagi kehidupan. Tanpa ada air, yang terjadi adalah aneka bencana mulai dari kekeringan, kelaparan hingga timbulnya berbagai macam penyakit.

Mantan Sekjen PBB Kofi Annan pernah mengingatkan tentang pentingnya air bersih. “We Shall not finally defeat AIDS, tuberculosis, malaria or any of the other infectious diseases that plague the developing world until we have also won the battle for save drinking-water, sanitation and basic health care.” (foto dan teks: Bambang Muryanto)

This entry was posted in lingkungan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s