>Tekai-Teki Masih Menyelimuti Situs Gunung Padang

>

Setelah menapaki anak tangga yang mengular di punggung bukit yang terjal selama 15 menit, akhirnya saya sampai di situs megalitik Gunung Padang. Di hadapan mata terhampar ribuan batu berbentuk persegi panjang, mirip balok es batu buatan pabrik, berserakan. Ada yang tergeletak di atas tanah, ada pula yang berdiri karena sebagian ‘tubuh’nya tertanam dalam tanah. Sejenak imaginasi saya terlempar ke masa ribuan tahun lalu. Sebuah pertanyaan besar menyesaki pikiran, bagaimana bentuk asli bangunan ini dan apa fungsinya?

Belum terjawab pertanyaan itu, saya mulai menyadari jika anak tangga yang menjadi pijakan para pengunjung untuk menaiki bukit setingggi 75 meter itu – diukur dari wilayah pemukiman penduduk — juga sejenis dengan balok-balok batu yang berada di zona inti situs Gunung Padang. Semuanya adalah balok batu dari jenis batuan beku andesit dan bukan buatan manusia jaman sekarang. Tetapi sudah ada sejak dahulu kala.

Situs ini berada di Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, 50 kilometer barat daya kota Cianjur, Jawa Barat. Tepatnya di sebuah bukit bernama Gunung Padang yang berada pada ketinggian 885 meter di atas permukaan laut. Berada jauh di pedalaman perkebunan the, situs ini dikelilingi lembah dan beberapa bukit seperti Bukit Pogor, Gombong, Empat, Gunung Karuhun dan Gunung Melati.

Situs Gunung Padang adalah bangunan peninggalan manusia yang hidup pada masa tradisi megalitik – masa ketika manusia sering menggunakan batu besar untuk ekspresi kebudayaannya — yang diperkirakan berumur antara 2500 hingga 1500 Sebelum Masehi (SM). Berbentuk bangunan berundak, situs Gunung Padang mempunyai lima tingkat atau teras yang semakin meninggi.

Tahun 1914, ilmuwan Belanda bernama DR. NJ Krom adalah orang pertama yang membuat catatan tentang situs Gunung Padang. Waktu itu ia mencatat situs ini tertutup hutan lebat. Tahun 1979, tiga orang bernama Endi, Soma dan Abidin menemukan kembali situs ini dan melaporkannya kepada pemerintah. Sejak itu penelitian terhadap situs ini mulai menggeliat.

Saat seekor burung elang terbang di langit biru untuk berburu, saya mulai menjelajahi situs ini. Sisa hutan lebat yang pernah menutupi situs ini masih tersisa. Beberapa pohon besar seperti pohon cempaka, beringin dan aren masih berdiri tegak diantara balok-balok batu yang berserakan. Sempat terlintas dalam pikiran jika balok-balok batu ini adalah buatan manusia. Tetapi ternyata bukan. Balok-balok batu ini adalah buatan alam, berasal dari Gunung Padang dan tidak ditemukan di bukit-bukit lain di sekitarnya.

Teras pertama adalah yang terluas (28 m x 36 m) dan teras selanjutnya kian menyempit dengan teras terakhir atau kelima yang terkecil (19 m x 16 m). Berdasarkan jejak yang tertinggal, ada beberapa bangunan yang berdiri di setiap teras. Di teras pertama, misalnya ada formasi batu yang membentuk sebuah kamar. Di salah satu pojoknya, ada satu batu yang berfungsi sebagai meja.

Temuan menarik lainnya adalah beberapa balok batu di teras pertama yang diduga berfungsi sebagai instrumen musik. Balok batu sepanjang 1,5 meter itu tergeletak di tanah dalam posisi berdekatan. Jika dipukul, suaranya mirip suara saron, salah satu instrumen dalam gamelan jawa. Masyarakat setempat menamakannya batu gamelan.

Rolan Mauludy Dahlan dan Hokky Situngkir dari Bandung Fe Institute dalam penelitiannya yang berjudul “Ada Tradisi Musikal di Situs Megalitikum, Gunung Padang, Indonesia? (Maret 2008) mengatakan bunyi ini mempunyai frekuensi tinggi, yaitu antara 2683Hz hingga 5171Hz. Analisis meraka juga menemukan ada 4 tangga nada yang sesuai dengan tangga nada barat dalam musikologi modern, yaitu f’’’-g’’’-d’’’-a’’’.

“Fakta ini memberikan sebuah arahan proporsional bahwa tradisi megalitik di situs Gunung padang sangat mungkin telah mengenal instrumen musik,” tulis Rolan dan Hokky dalam laporan penelitiannya.

Berfungsi sebagai apakah bangunan ini pada masanya? Belum ada jawaban pasti. Buku terbitan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta (1985), cenderung mangatakan situs Gunung Padang adalah tempat pemujaan arwah nenek moyang. Semakin ke atas mempunyai nilai yang lebih suci dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa masuk.

Andy Putranto, staf pengajar jurusan arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM) juga menguatkan dugaan ini. “Bangunan berundak, itu biasanya untuk pemujaan,” tandas Andy.

Namun kini manusia moderen menjadikan situs ini sebagai salah satu tujuan wisata. Ada pula yang datang dengan tujuan khusus. “Di masa kampanye banyak caleg datang ke sini untuk meminta sesuatu,” ujar Huda, salah seorang penjaga situs ini. Ya, situs ini dianggap keramat atau suci, tempat dimana masyarakat — bagi yang percaya – bisa berdoa agar keinginannya tercapai.

Siang itu, ada satu keluarga sedang tetirah. Saat hidangan makan siang khas Sunda yang lezat sedang disiapkan, beberapa anggota keluarga duduk di bawah pohon besar, dekat dengan batu lumbung di teras kedua. Mereka berdoa dengan takzim. Ada persembahan berupa beberapa batang rokok kretek yang menyala di atas batu. Usai berdoa, mereka makan siang bersama.

Huda menjelaskan banyak orang datang ke situs Gunung Padang untuk berdoa agar keinginannya tercapai. Lokasi berdoa, tergantung dari keinginannya. “Jika seniman yang ingin sukses, biasanya berdoa di teras pertama,” ujar Huda. Mungkin ini disesuaikan dengan keberadaan batu gamelan di teras ini.

Teras kedua adalah untuk mereka yang ingin sukses dalam hidup keduniawian. Di teras ini terdapat batu lumbung. Selanjutnya teras ketiga, dimana ada beberapa batu yang bercap telepak harimau adalah tempat berdoa bagi mereka yang ingin mendapat ketenteraman hati. Beberapa penjaga mengatakan telapak harimau adalah simbol kekuasaan Prabu Siliwangi, salah satu raja besar di Jawa Barat di masa lampau.

Di teras empat, ada batu gendong (menhir kecil) yang sangat berat. “Jika dapat meggendong batu ini, maka ia akan mudah memperoleh kesaktian,” ujar Yusup, penjaga lain situs Gunung Padang. Sedangkan tingkat lima adalah tempat bagi orang yang menginginkan cepat naik jabatan. Di teras ini terdapat susunan batu yang dinamakan batu pandaringan atau penjaga.

Walaupun dianggap sebgai tempat yang keramat, namun masih saja ada orang yang berani melakukan perusakan. Seperti siang di bulan Juli itu, saya menyaksikan seseorang tak dikenal merusak batu gendong dan beberapa batu megalit lainnya. Beberapa balok batu megalit pecah menjadi beberapa bagian sedangkan batu gendong mengalami sedikit kerusakan. “Selama saya menjadi penjaga, baru kali ini ada perusakan,” ujar Yusup yang juga penjaga situs Gunung Padang dengan penuh keprihatinan.

Pemerintah memang perlu memberikan penjagaan lebih terhadap situs-situs purbakala. Tentu saja, agar situs ini tetap awet dan dapat dipelajari lebih lanjut sehingga terpecahkan teka-teki mengenai fungsi bangunan ini di masa lampau. Apalagi jika benar, situs Gunung Padang yang luasnya mencapai 3123 m persegi itu adalah situs megalitikum paling besar di Indonesia. Ini adalah kekayaan budaya yang ternilai harganya.(foto dan teks:Bambang Muryanto)

This entry was posted in wisata. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s