>Misteri Candi-candi di Gunungkidul

>

Nun jauh di Desa Candirejo, Ngawen, Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang kering, terdapat sebuah peninggalan kebudayaan tua yang nyaris dilupakan orang. Di salah satu sudut desa itu, tepatnya di perbatasan ladang dan perumahan penduduk terdapat bongkahan batu-batu andesit berbentuk segi empat yang tertata dalam empat tingkat. Di tingkat paling atas, susunan batu sangat rapat. Inilah sisa-sisa sebuah candi bernama Candi Risan.

Andi Putranto, dosen arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM), mengatakan paling tidak ada sekira 17 candi yang tersebar di berbagai tempat di Kabupaten Gunungkidul. Misalnya di Desa Ngawis, Karangmojo, Desa Pulutan dan Ngawu (Kecamatan Wonosari). Adapula di Desa Plembutan, Playen yang berdiri di tanah berukuran sekira 30 x 25 meter. Semuanya sudah berupa reruntuhan, yang terbuat dari batu putih, khas Gunungkidul yang kaya batuan kapur. Hanya Candi Risan saja yang terbuat dari batuan andesit.

Inventarisasi candi di Kabupaten Gunungkidul dilakukan berdasarkan temuan seperti sisa pondasi candi, tumpukan batuan yang menyusun bangunan candi, arca dan frgamen puncak stupa yang tersebar di 8 kecamatan. Penemuan arca di suatu lokasi dapat menjadi indikasi di lokasi itu kemungkinan besar pernah berdiri sebuah candi. “Sebab candi itu adalah rumah arca,” ujar Andi.

Walaupun ada belasan situs candi di Gunungkidul, tetapi banyak orang dan bahkan warga Gunungkidul sendiri tidak mengetahuinya. Wilayah ini lebih dikenal sebagai wilayah yang tandus, kering, memiliki pegunungan kapur yang indah serta pantai-pantai yang eksotik.

Ketika saya mencari reruntuhan candi di Desa Giring, Paliyan, beberapa perangkat desa yang saya tanya mengatakan tidak tahu. Namun saya beruntung bisa menemukannya. Reruntuhan candi ini berupa beberapa balok batu putih dan batu lumpang – batu yang berlubang di tengahnya– yang tersusun dalam segi empat. Sementara di bagian tengahnya ada batu persegi yang meyerupai nisan dan dipagari dengan kain putih. Situs ini dinaungi dua pohon besar dan terdapat di tengah ladang. Ada bekas sesaji, sisa bakaran kemenyan dan botol minyak wangi, pertanda ada orang-orang yang melakukan ritual di situs ini.

Dari sekian banyak reruntuhan candi itu, reruntuhan Candi Risan adalah yang paling lengkap. Keberadan sebuah patung Avalokiteswara makin menguatkan jika di situs itu dahulu pernah berdiri sebuah candi. Patung Avalokiteswara yang menggambarkan seorang pria sedang duduk bersila adalah salah seorang dewata dalam agama Budha. Artinya Candi Risan adalah sebuah candi Budha.

“Tahun 1984, arca ini dicuri orang dan kemudian ditemukan di Singapura,” ujar Wiro Suyoto, salah satu penjaga Candi Risang. Untuk alasan keamanan, arca seberat 600 kg dan waktu itu laku Rp 270 juta itu disimpan di Kantor BP3 Yogyakarta. Berada di sisi kiri pintu masuk kantor itu, patung ini seperti ‘satpam’ yang mengawasi siapa pun yang masuk ke kantor yang berada di Prambanan itu.

Dari sisa reruntuhan candi-candi di Wonosari, terlihat pengerjaannya tidak sebagus candi-candi di sekitar Prambanan yang diperkirakan pernah menjadi pusat kekuasaan (pemerintahan) pada jamannya. Andi menduga candi yang dibangun jauh dari pusat kekuasaan memang mempunyai kualitas yang tidak bagus. “Pengerjaannya tidak halus,” ujarnya.

Hingga saat ini masih belum jelas siapa yang membangun, kapan dibangun dan mengapa ada banyak candi di kawasan Gunungkidul. Inilah bagian dari rantai sejarah peradaban manusia masa lalu di Gunungkidul yang masih gelap. “Tidak ada satu pun prasasti yang menceritakan tentang pembangunan candi-candi di Gunungkidul,” tandas Kepala BP3 (Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala) Yogyakarta, Herni Pramastuti seraya mengatakan candi-candi itu ada yang berciri candi Hindu dan candi Budha.

Akibatnya penelitian tentang keberadaan candi-candi di Gunungkidul juga minim. “Hanya ada satu skripsi (di jurusan arkeologi UGM) tentang candi-candi di Gunungkidul,” ujar Andi.

Berdasarkan tradisi lisan, banyak tetua desa di Gunungkidul mengatakan jika leluhur mereka adalah warga Kerajaan Majapahit yang melarikan diri saat kerajaan itu runtuh akibat serangan kerjaan Islam Demak. Warga Majapahit yang beragama Hindu dan tidak mau takluk dibawah Kerajaan Demak itu akhirnya melarikan diri ke berbagai wilayah, salah satunya berhenti dan tinggal di Gunungkidul.

Jika demikian, apakah para pelarian dari Kerajaan Majapahit di Jawa Timur adalah para pendiri candi-candi di Gunungkidul? “Kalau memang benar ada pelarian dari Majapahit, mengapa mereka tidak meninggalkan seni bangunan bercirikan Majapahit?” gugat Andi. Ciri bangunan gaya Majapahit, salah satunya adalah menggunakan batu bata. Sedangkan reruntuhan candi-candi di Gunungkidul terdiri dari gabungan batuan andesit dan batu putih.

Selain itu, arca-arca yang ditemukan di Gunungkidul juga tidak menunjukkan ciri arca masa Majapahit. Arca masa Majapahit biasanya mempunyai ukiran teratai yang keluar dari guci.

Dengan bukti-bukti ini, Andi tidak yakin para pelarian Majapahit adalah pembuat candi-candi di Gunungkidul. Baginya cerita pelarian dari Majapahit adalah foklor yang biasa ada pada masyarakat tradisional. Itu adalah usaha masyarakat Gunungkidul untuk mencari pengakuan.

Mungkin bila diketahui secara pasti kapan pembuatan candi-candi di Gunungkidul, paling tidak dapat menuntun kepada jawaban siapa pembuat candi itu apakah pelarian Majapahit atau bukan. Namun penelitian ilmiah untuk mengukur umur batu-batu candi itu secara pasti memerlukan biaya mahal.

Andi memperkirakan candi-candi di Gunungkidul dibangun pada masa klasik, yaitu antara abad 6 hingga 10 Masehi, bersamaan dengan masa-masa pembangunan candi-candi di Prambanan. Sedangkan Herni memperkirakan pada abad 9 Masehi. Jika perkiraan waktu ini benar maka pembangunan candi-candi di Gunungkidul juah mendahului keruntuhan Kerajaan Majapahit yang terjadi pada abad 16 Masehi.

Walaupun masih diselimuti misteri, keberadaan candi-candi ini dapat menjadi petunjuk jika di masa lalu ada kemungkinan Gunungkidul adalah wilayah yang subur. Sebab candi biasanya didirikan di wilayah yang subur. Wilayah yang subur mampu menghasilkan hasil bumi sehinga dapat digunakan membiayai pemeliharaan candi. “Mungkin pada abad 8 Masehi, Gunungkidul adalah wilayah yang masih subur,” ujar Andi.

Siang itu, saya berdiri di pojok sambil menatap reruntuhan candi Plembutan. Ingin rasanya mengetahui siapa yang membuat candi ini dan lainnya di Gunungkidul. Bukan tidak mungkin misteri ini akan terungkap. Semuanya soal waktu dan asalkan kasus candi Papringan tidak terulang lagi. Candi itu sudah ‘lenyap’ karena masyarakat setempat menggunakan sisa-sisa batuan candi itu sebagai pondasi jalan. Jika ini terjadi lagi, misteri candi-candi di Gunungkidul akan abadi. (Bambang Muryanto)

This entry was posted in Seputar Yogyakarta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s