>Ahmad Tohari: Jaman Teknologi, Tinggalkan Klenik

>

Ahmad Tohari, seniman yang menghasilkan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk itu masih mengeluarkan pemikiran kritis dibidang kebudayaan. Ia berpendapat jaman yang bergerak dari era pertanian menuju era teknologi menuntut perubahan kebudayaan dari masyarakatnya. Dengan datangnya jaman teknologi yang rasional, masyarakat seharusnya meninggalkan tradisi klenik yang lekat dalam budaya pertanian.

“Tradisi budaya itu ada umurnya, suka atau tidak suka,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam diskusi bertema “Rembug Budaya, Budaya lokal dan Perubahan Sosial di angkringan JAC (warung Pendopo Ndalem), Ngasem, Yogyakarta, Kamis (23/12) yang diselenggarakan CRI, Program Studi Komunikasi UII dan Ristek. Diskusi dengan moderator Toto Rahardjo ini juga menghadirkan budayawan dari Yogyakarta, Indra Tranggono.

Dalam diskusi santai yang diselingi dengan tari Topeng Cirebon itu, Kang Tohari ‘gemas’ dengan pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang masih suka tradisi klenik seperti penghormatan terhadap Sungai Serayu dengan cara melarung kepala kerbau. Ia menegaskan cara seperti ini tidak sesuai dengan era teknologi yang mengandalkan rasio untuk memahami suatu peristiwa.

“Nantinya, cara menghormati Sungai Serayu itu ya dengan cara menjaga hutannya, menjaga aliran sungainya, menjaga biotanya,” tandas seniman yang piawai dalam mendiskripsikan situasi pedesaan dalam novel-novelnya itu.

Tohari juga mengingatkan perubahan sosial termasuk kebudayaan masyarakat adalah sebuah keniscayaan. Untuk itu budaya lokal harus dipersiapkan guna menyongsong masa depan. Dalam bahasa Indra Tranggono, budaya lokal yang berfungsi sebagai medium orientasi lokal, solidaritas lokal dan berhubungan dengan kekuatan supranatural, harus menjadi inspirasi bagi perubahan sosial itu sendiri.

Sebagai contoh, Tohari menjelaskan tari Topeng Cirebon yang sarat dengan kritik terhadap manusia yang berkuasa itu. “Bagaimana caranya tarian ini dapat mengglobal,” ujar Tohari.

Tetapi sayangnya, Indra menyatakan pemerintah hampir tidak mempunyai kepedulian terhadap budaya lokal yang terpinggirkan oleh kekuatan budaya modal atau kapitalisme. Budayawan yang sering menulis cerpenis ini memberikan ilustrasi tentang satu komunitas kethoprak tobong yang menggelar pentas pamit mati di alun-alun utara beberapa waktu lalu.

“Ini sangat ironis karena ternyata pemerintah tidak memberikan bela sungkawa atau melindunginya,” tandas Indra. Menurutnya kejadian ini memberikan hikmah bahwa dalam budaya modal atau kapital itu tidak ada konsep berbagi, hanya yang kuat yang akan menang.

Sedikitnya budaya lokal yang muncul di televisi juga menjadi contoh lain betapa tidak seriusnya pemerintah. “Karena itu saya warning kepada teman-teman bahwa pemerintah itu tidak bisa diharapkan,” ujar Indra lagi.

Diskusi yang menarik itu, tidak bisa menuntaskan semua persoalan budaya lokal dan perubahan sosial yang begitu komplek. “Butuh satu semester,” tandas Toto Rahardjo, budayawan yang juga tokoh NGO itu.

Saat diskusi berakhir di malam itu, para peserta masih memenuhi Pendopo Ndalem. Selain menyaksikan film dokumenter, mereka juga dihibur dengan wayang tinglung dari Mardi Kenci yang kocak. Seluruh hadirin tertawa terbahak-bahak. (Foto dan teks: Bambang Muryanto)

This entry was posted in Budaya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s