>Duta Batik di Negara Sakura

>

Perempuan bertubuh kecil yang sangat mencintai seni batik ini bernama Sumiko Kato. Usianya 73 tahun, tetapi ia masih bersemangat membuat karya lukis batik. Penerbangan Jepang-Indonesia selama 6 jam lebih tidak menghalanginya datang ke Yogyakarta satu atau dua kali setiap tahun. Saat berada di Indonesia, Sumiko ‘bertapa’ di rumah kontrakan sederhana di kawasan Tirtonirmolo, Bantul untuk menghasilkan karyanya dengan media kain berukuran besar.

Sumiko adalah salah satu dari sedikit warga Jepang yang secara serius menekuni seni lukis batik, khususnya yang berasal dari Yogyakarta. Semua karyanya tersimpan di rumahnya yang berumur 200 tahun di tengah hutan Kanazu-Sousaku di wilayah kota Awara, Fukui, Pulau Honshu, Jepang. Tak jauh dari rumahnya menjulang Gunung Fujiyama yang indah.

“Saya suka tinggal di hutan karena sunyi,” ujar Sumiko dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata. Di hutan seluas 300 x 700 meter itu, tinggal 6 seniman lainnya. Ada pula sebuah museum untuk memamerkan karya para seniman yang tinggal di hutan Kanazu-Sousaku itu. Dengan demikian masyarakat Jepang dapat melihat dan menikmati keindahan seni batik karya Sumiko.

Karya lukis batiknya yang rata-rata berukuran lebih dari 1x 2 meter (tanpa bingkai) itu banyak bercerita tentang alam dan religiusitas. Selain menggunakan teknik lukis, Sumiko yang mantan guru seni untuk ana-anak SD dan SMP ini juga menggunakan motif batik Jawa untuk karyanya. Melalui proses teknik batik, wanita yang ramah ini dapat menghasilkan karya lukis batik yang memikat.

“Efek teknik batik menjadi lahan yang dieksploitasi habis-habisan dengan cara pandang modern maka terwujudlah karya lukisan modern yang kreatif dan berkepribadian,” ujar Sudarisman, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, sekaligus guru Sumiko saat memberikan sambutan dalam pameran tunggal Sumiko di V-Art Gallery, Yogyakarta Oktober 2007 lalu. Ini adalah pamerannya yang kedua di Indonesia.

Di wilayah Fukui sendiri, Sumiko, nenek dari dua cucu ini adalah satu-satunya artis yang menggeluti seni batik. Tidak hanya sekedar berkarya, Sumiko juga aktif memperkenalkan seni batik kepada masyarakat Jepang. Kadang-kadang ada rombongan anak-anak SD atau SMP datang ke rumahnya di hutan Kanazu untuk belajar membatik.

Ia juga mempunyai klub seni batik yang bernama Hamuro. “Saya mempunyai kelas belajar membatik setiap minggu kedua,” ujarnya pada suatu siang. Teh manis yang dingin menemani perbincangan kami dengan Sumiko. Tak lama kemudian ia berangkat ke Ardiyanto gallery untuk melakukan pewarnaan terhadap karya lukis batiknya dengan media kain beludru yang berjudul “Ombak di Laut Musim Dingin”.

Dalam pertemuan selanjutnya, Sumiko meminjamkan sebuah CD rekaman saat ia tampil dalam acara “Oshare Kobo” yang ditayangkan televisi NHK. Dalam acara itu Sumiko bercerita tentang batik dari Indonesia, memperlihatkan koleksi kain batiknya dan memperagakan bagaimana cara membuat batik. Ia membuat warna alami dari sejenis rumput bernama kadiasu. Sedangkan untuk mendapatkan kesan warna tua, ia menggunakan air hasil larutan besi berkarat.

Kecintaan Sumiko kepada batik, khususnya dari Yogyakarta, berawal saat ia berkunjung ke Yogyakarta tahun 1987. Ketika berbelanja batik di sebuah toko batik di Prawirotaman, Yogyakarta, Sumiko langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. “Batik mempunyai gambar yang indah dan kuat sekali,” ujarnya. Sejak itu, timbul keinginannya untuk kembali lagi ke Indonesia guna belajar batik.

Akhirnya kesempatan bagi alumnus Universitas Fukui ini untuk mendalami batik mulai muncul pada tahun 1993. Waktu itu Sumiko yang sudah pensiun sebagai guru di SMP. Sadar faktor bahasa menjadi kendala, Sumiko memutuskan untuk belajar bahasa Indonesia dahulu selama beberapa bulan di Unversitas Indonesia tahun 1993.

Tahun 1994, ia datang kembali ke Yogyakarta untuk belajar batik. Sumiko yang berusia 58 tahun itu masuk ke Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Di luar jadwal kuliah, Sumiko belajar batik di beberapa studio batik milik para seniman di Yogyakarta. Salah satunya di studio batik milik Budi Untung.

Bagi Sumiko yang sudah melukis sejak umur 12 tahun itu, batik bukanlah sesuatu yang baru. Tahun 1973, ia sudah menekuni batik khas Jepang dengan menggunakan parafin. Beberapa karya lukisnya ada yang mendapat penghargaan

Tahun 1996, Sumiko berhasil menyelesaikan kuliahnya di ISI. Sebagai kata perpisahan sebelum kembali ke Jepang, ia memamerkan karya lukis batiknya di Bentara Budaya, Yogyakarta yang dilanjutkan di Jepang ketika ia tiba di sana.

“Kata orang, karya saya bagus,” ujarnya Sumiko yang masih kelihatan muda dari usia sebenarnya itu. Itu sebabnya, ada saja orang yang ingin membeli karyanya walaupun ia berkarya tidak untuk tujuan komersial.

Sejak menyewa rumah di Tirtonirmolo pada 2001, Sumiko datang ke Indonesia, paling tidak dua kali dalam setahun. “Jika sebentar, hanya dua minggu tetapi jika lama bisa sampai satu bulan,” ujar istri dari Komyo Kato ini.

Berada di Indonesia adalah waktu yang tepat untuk membuat karya lukis batik. Alasannya hasil karya lukis batik akan lebih bagus jika prosesnya dilakukan di Indonesia. Panas matahari dan angin di Indonesia mempunyai pengaruh besar dalam proses pengeringan batik. Di Indonesia pula ia mudah menemukan teman-teman yang mau membantunya dalam proses pembuatan batik.

Selain cinta dengan batik, Sumiko juga jatuh cinta dengan masyarakat dan kebudayaan Jawa. Bahkan saat kuliah, sempat mempunyai beberapa anak asuh di Kabupaten Gunungkidul. Di Yogyakarta, ia selalu pergi kemana-mana dengan naik bus kota. Kecintaan ini pula yang mendorong alumnus Universitas Fukui ini pernah mengadakan pameran kebudayaan Jawa di Jepang.

Sumiko merasa bahagia saat membuat karya di Indonesia. “Saya selalu merasa lebih sehat dan kembali muda setelah membuat batik di Indonesia,” ujarnya

Di masa tuanya, Sumiko seolah mendapat ‘wahyu’ agar mengabdikan hidupnya untuk batik. Jauh di lubuk hatinya, Sumiko masih memendam keinginan untuk memperkenalkan batik ke seluruh dunia. Inilah mimpinya yang lain.

“Hidup saya menjadi lebih bermanfaat untuk batik,” ujarnya. Menjelang sore hari, saya mohon diri dari rumah kontrakannya yang terjaga kebersihannya itu. Duta batik di Negara Sakura itu akan pergi ke Vihara Budha di salah satu pojok Kota Yogyakarta, tentu saja dengan naik bus kota. Sayonara, Bu Sumiko! (Foto dan teks:Bambang Muryanto)

Artikel ini pernah dimuat di The Jakarta Post 12 Maret 2010

This entry was posted in profil. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s